Hakekat Strategi Pembelajaran

Posted on 12.27, under


Unit 1 Hakekat Strategi Pembelajaran
1.    Standar Kompetensi
1.1    Mampu menjelaskan hakekat strategi pembelajaran, disiplin kelas;
1.2    menjelaskan karakteristik pembelajaran di SD;
1.3    menjelaskan model-model pembelajaran;
1.4    menjelaskan prosedur pembelajaran;
1.5    menjelaskan kriteria pemilihan dan penggunaan metode mengajar;
1.6    menjelaskan kriteria pemilihan media pembelajaran;
1.7    menjelaskan keterampilan dasar mengajar;
1.8    menerapkan keterampilna dasar mengajar;
1.9    menerapkan fungsi kegiatan remidial dan pengayaan;
1.10menerapkan pengelolaan kelas;
1.11menerapkan disiplin kelas; dan
1.12menjelaskan pembelajaran yang efektif.

2.    Kompetensi Dasar
2.1     Menjelaskan konsep dan prinsip belajar dan pembelajaran

3.    Indikator
3.1  Menjelaskan konsep dan prinsip belajar
3.2  Menjelaskan perbedaan Pendekatan, strategi, metode dan teknik pembelajaran
3.3  Menjelaskan faktor-faktor penentu dalam pemilihan strategi pembelajaran
3.4  Mengidentifikasi strategi pembelajaran

4.    Materi pembahasan
4.1  Pengantar
Sekolah erat kaitannya dengan kegiatan belajar dan mengajar. Belajar adalah kegiatan yang dilakukan siswa guna mendapatkan ilmu. Sedangkan mengajar adalah kegiatan yang dilakukan guru untuk memberikan ilmu kepada siswa. Dalam setiap kegiatan pasti memiliki tujuan. Begitu pula dengan kegiatan belajar mengajar.
Kegiatan belajar dan mengajar memiliki tujuan yang harus dicapai. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan adanya strategi. Strategi merupakan sebuah upaya yang dilakukan agar tercapainya sebuah tujuan. Dalam kegiatan belajar mengajar strategi itu disebut dengan strategi pembelajaran.
4.2  Isi
4.2.1        Konsep dan prinsip belajar
Konsep Teori Belajar
Teori belajar atau konsep belajar, yaitu suatu konsep pemikiran yang dirumuskan mengenai bagaimana proses belajar itu terjadi. Menurut Notoatmodjo (1997) bahwa teori belajar dapat dikelompokkan dua kelompok, yaitu:
Teori yang hanya memperhintungkan faktor yang datang dari luar individu (faktoreksternal), dikenal dengan teori stimulus dan respons.
Teori yang memperhitungkan faktor yang berasal dari dalam individu (faktor internal), maupun yang berasal dari luar individu (faktor ekstern), dikenal dengan teori transformasi. (Sunaryo, 2004).
            Prinsip belajar

Prinsip belajar adalah konsep-konsep yang harus diterapkan didalam proses belajar mengajar . Seorang guru akan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik apabila ia dapat menerapkan cara mengajar yang sesuai dengan prinsip-prinsip orang belajar. Dengan kata lain supaya dapat mengotrol sendiri apakah tugas-tugas mengajar yang dilakukannya telah sesuai dengan prinsip-prinsip belajar maka guru perlu memahami prinisp-prinsip belajar itu.
Banyak teori dan prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh para ahli yang satu dengan yang lain memiliki persamaan dan juga perbedaan. Dari berbagai prinsip belajar tersebut terdapat beberapa prinsip yang relative berlaku umum yang dapat kita pakai sebagai dasar dalam upaya pembelajaran, baik bagi siswa yang perlu meningkatkan mengajar. Prinsip-prinsip itu berkaitan dengan perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/berpengalaman, pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan, serta perbedaan individual.
1)     Perhatian dan motivasi
Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar. Dari kajian teori belajar pengolahan informasi terungkap bahwa tanda adanya perhatian tak mungkin terjadi belajar (Gage dan Berline,1984 : 335). Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya.
Tujuan dalam belajar diperlukan untuk suatu proses yang terarah. Motivasi adalah suatu kondisi dari pelajar untuk memprakarsai kegiatan, mengatur arah kegiatan itu dan memelihara kesungguhan. Secara alami anak-anak selalu ingin tahu dan melakukan kegiatan penjajagan dalam lingkungannya. Rasa ingin tahu ini seyogianya didorong dan bukan dihambat dengan memberikan aturan yang sama untuk semua anak.
Motivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang. Motivasi mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar. Motivasi mempunyai kaitan yang erat dengan minat. Siswa yang memiliki minat terhadap sesuatu bidang studi tertentu cenderung tertarik perhatiannya dan demikian timbul motivasinya untuk mempelajari bidang tersebut.Motivasi dapat bersifat internal artinya dating dari dirinya sendiri, dapat juga bersifat eksternal yakni dating dari orang lain, dari guru, orang tua, teman dan sebagainya.
a.       Motif intrinsic.
Motif intrinsik adalah tenaga pendorong yang sesuai dengan perbuatan yang dilakukan.Sebagai contoh, seorang siswa dengan sungguh-sungguh mempelajari mata pelajaran di sekolah karena ingin memiliki pengetahuan yang dipelajarinya.
b.      Motif ekstrinsik.
Motif ekstrinsik adalah tenaga pendorong yang ada diluar perbuatan yang dilakukannya tetapi menjadi penyerta.Contohnya siswa belajar dengan sungguh-sungguh bukan dikarenakan ingin memiliki pengetahuan yang dipelajarinya tetapi didorong oleh keinginan naik kelas atau mendapatkan ijazah.Keinginan naik kelas atau mendapatkan ijazah adalah penyerta dari keberhasilan belajar.
Motif ekstrinsik dapat berubah menjadi motif intrinsik yang disebut “transformasimotif”.Sebagai contoh, seseorang belajar di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) karena menuruti keinginan orang tuanya yang menginginkan anaknya menjadi seorang guru. Mula-mula motifnya adalah ekstrinsik, yaitu untuk menyenangkan hati orang tuanya,tetapi setelah belajar beberapa lama di LPTK ia menyenangi pelajaran-pelajaran yang digelutinya dan senang belajar untuk menjadi guru. Jadi motif pada siswa itu semula ekstrinsik menjadi intrinsik.

2)   Keaktifan
Belajar tidak dapat dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak dapat dilimpahkan kepada orang lain. Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak aktif mengalaminya sendiri. John Dewey mengemukakan bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri, maka inisiatif harus datang sendiri. Guru sekedar pembimbing dan pengarah.
Menurut teori kognitif, belajar menunjukkan adanya jiwa yang sangat aktif, jiwa mengolah informasi, tidak sekedar menyimpannya saja tanpa mengadakan transformasi.Menurut teori ini anak memiliki sifat aktif, konstruktif dan mampu merencanakan sesuatu. Dalam proses balajar mengajar anak mampu mengidantifikasi, merumuskan masalah, mencari dan menemukan fakta, menganalisis, menafsirkan dan menarik kesimpulan.
Dalam setiap proses belajar siswa selalu menampakkan keaktifan. Keaktifan itu dapat berupa kegiatan fisik dan kegiatan psikis. Kegiatan fisik bisa berupa membaca, mendengar, menulis, berlatih keterampilan-keterampilan, dan sebagainya. Sedangkan kegiatan psikis misalnya menggunakan khasanah pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan masalah yang dihadapi, membandingkan satu konsep dengan yang lain, menyimpulkan hasil percobaan dan kegiatan psikis yang lain.

3)   Keterlibatan Langsung/Berpengalaman
Menurut Edgar Dale, dalam penggolongan pengalaman belajar yang dituangkan dalam kerucut pengalamannya, mengemukakan bahwa belajar yang paling baik adalah belajar dari pengalaman langsung. Belajar secara langsung dalam hal ini tidak sekedar mengamati secara langsung melainkan harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan bertanggung jawab terhadap hasilnya. Keterlibatan siswa di dalam belajar tidak hanya keterlibatan fisik semata, tetapi juga keterlibatan emosional, keterlibatan dengan kegiatan kognitif dalam pencapaian perolehan pengetahuan, dan internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap dan nilai, dan juga pada saat mengadakan latihan-latihan dalam pembentukan keterampilan.

4)   Pengulangan
Menurut teori psikologi daya, belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas mengamat, menanggap, mengingat, mengkhayal, merasakan, berpikir, dan sebagainya. Dengan mengadakan pengulangan maka daya-daya tersebut akan berkembang.
Berangkat dari salah satu hukum belajarnya “law of exercise”, Thorndike mengemukakan bahwa belajar ialah pembentukan hubungan antara stimulus dan respons, dan pengulangan terhadap pengamatan-pengamatan itu memperbesar peluang timbulnya respons benar.
Teori tersebut menekankan pentingnya prinsip pengulangan dalam belajar walaupun dengan tujuan yang berbeda.Walaupun kita tidak dapat menerima bahwa belajar adalah pengulangan seperti yang dikemukakan teori tersebut, karena tidak dapat dipakai untuk menerangkan semua bentuk belajar, namun prinsip pengulangan masih relevan sebagai dasar pembelajaran.

5)   Tantangan
Teori Medan (Field Theory) dari Kurt Lewin mengemukakan bahwa siswa dalam situasi belajar berada dalam suatu medan atau lapangan psikologis. Dalam situasi siswa menghadapi suatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi selalu terdapat hambatan yaitu mempelajari bahan belajar, maka timbullah motif untuk mengatasi hambatan itu yaitu dengan mempelajari bahan belajar tersebut.
Tantangan yang dihadapi dalam bahan belajar membuat siswa bergairah untukmengatasinya.  Bahan belajar yang baru, yang banyak mengandung masalah yang perlu dipecahkan membuat siswa tertantang untuk mempelajarinya.

6)   Balikan dan Penguatan
Prinsip belajar yang berkaitan dengan balikan dan penguatan terutama ditekankan oleh teori belajar “law of effectnya Thorndike”. Siswa belajar sungguh-sungguh dan mendapatkan nilai yang baik dalam ulangan.Nilai yang baik itu mendorong anak untuk belajar lebih giat lagi. Nilai yang baik dapat merupakan penguatan positif. Sebaliknya, anak yang mendapat nilai yang jelek pada waktu ulangan akan merasa takut tidak naik kelas. Hal sini juga bisa mendorong anak untuk belajar lebih giat. Inilah yang disebut penguatan negatif. Format sajian berupa tanya jawab, diskusi, eksperimen, metode penemuan dan sebagainya merupakan cara belajar-mengajar yang memungkinkan terjadinya balikan dan penguatan.



7)   Perbedaan Individu
Proses pengajaran seyogianya memperhatikan perbedaan indiviadual dalam kelas sehingga dapat memberi kemudahan pencapaian tujuan belajar yang setinggi-tingginya. Pengajaran yang hanya memperhatikan satu tingkatan sasaran akan gagal memenuhi kebutuhan seluruh siswa. Karena itu seorang guru perlu memperhatikan latar belakang, emosi, dorongan dan kemampuan individu dan menyesuaikan materi pelajaran dan tugas-tugas belajar kepada aspek-aspek tersebut. Siswa merupakan individual yang unik, artinya tidak ada dua orang siswa yang sama persis, tiap siswa memiliki perbedaan satu dengan yang lainnya. Perbedaan belajar ini berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa.
Pembelajaran klasikal yang mengabaikan perbedaan individual dapat diperbaiki dengan beberapa cara, misalnya:
a.  Penggunaan metode atau strategi belajar-mengajar yang bervariasi;
b.  Penggunaan metode instruksional;
c.  Memberikan tambahan pelajaran atau pengayaan pelajaran bagi siswa pandai dan memberikan bimbingan belajar bagi anak-anak yang kurang
d.  Dalam memberikan tugas, hendaknya disesuaikan dengan minat dan kemampuan siswa.

4.2.2        Perbedaan Pendekatan, Strategi, Metode dan Teknik Pembelajaran

Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).

Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien, Kemp (Wina Senjaya, 2008. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2)group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.

Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.

Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas.

4.2.3        Faktor-faktor penentu dalam pemilihan strategi pembelajaran

Faktor Pemilihan Srategi Pembelajaran
Dalam pemilihan strategi pembelajaran harus mempertimbangkan beberapa faktor penting, diantaranya:
a.  Karakteristik tujuan pembelajaran
Dalam memilih suatu strategi harus sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Tipe perilaku yang diharapkan guru dapat dicapai oleh siswa. Skenario pembelajaran disusun berdasarkan indikator dan kegiatan pembelajaran yang terlampir dalam silabus, bahkan guru dapat mengembangkannya.
b.      Karakteristik anak dan cara belajarnya
Setiap guru harus menyadari adanya kenyataan bahwa terdapat perbedaan individual dikalangan siswa. Berbeda dalam kemampuan belajar, cara belajar, latar belakang, pengalaman dan kepribadian mereka. Karakteristik anak/siswa kelas tinggi itu sendiri yaitu mampu menyusun urutan seri objek, mengalami kemampuan berbahasa, sifat egosentris berkurang, bergeser ke sosiosentris dalam berkomunikasi, dan sudah dapat menerima pendapat orang lain. Karakteristik tersebut dapat mempengaruhi gaya belajar mereka yang lebih menekankan pada keterampilan proses atau kektifan anak yang sudah menggunakan pikirannya untuk mencoba-coba, menemukan, dan mengeksplorasi keingintahuannya.
c.       Tempat berlangsungnya kegiatan belajar
Daerah/lokasi/tempat kegiatan juga berpengaruh terhadap pemilihan suatu strategi pembelajaran. Daerah perkotaan lebih lengkap fasilitasnya daripada daerah pinggiran atau pedalaman. Sumber atau fasilitas yang dimaksud meyangkut peralatan, ruangan. Strategi pembelajaran sangat ditentukan oleh jenis dan jumlah sumber yang tersedia untuk melaksanakan strategi tersebut secara efektif. Misalnya strategi pembelajaran dengan ceramah untuk kelas besar membutuhkan sedikit sumber dan fasilitas dibanding suatu kerja laboratorium yang membutuhkan peralatan cukup banyak dan ruangan yang memadai. Selain itu, kegiatan belajar yang dilaksanakan di alam akan memiliki dampak yang berbeda dengan di kelas. Siswa lebih suka dan tertarik keadaan yang bebas. Apabila pelaksanaan pembelajaran dikalukan di kelas terus-menerus siswa akan bosan, apalagi ditambah kelas yang kotor. Oleh karena itu, tempat belajar perlu dipertimbangkan dalam pemilihan strategi pembelajaran.
d. Tema pembelajaran
Tema atau materi dalam pembelajaran dapat mempengaruhi pemilihan strategi pembelajaran. Strategi yang akan dipilih harus disesuaikan dengan tema atau materi pelajaran yang akan disampaikan. Dengan begitu, materi yang diajarkan diharapkan dapat sampai kepada siswa dan siswa dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
e. Pola kegiatan
Pada dasamya pola kegiatan yang diciptakan oleh guru dan siswa berkaitan dengan keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran. Strategi pembelajaran yang besifat inkuiri pada umumnya dapat memberikan rangsangan belajar yang lebih intensif dibandingkan dengan strategi pembelajaran yang hanya bersifat ekspositori. Misalnya saja strategi kegiatan pembelajaran presentasi tepat apabila digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran aspek kognitif, tetapi hal ini tidak tepat digunakan untuk mencapai tujuan pempelajaran aspek afektif. Tujuan pembelajaran aspek afektif lebih tepat menggunakan pola kegiatan interaktif.
Langkah-langkah menentukan strategi pembelajaran, yaitu:
a)      Bentuklah atau ciptakan suasana kondusif di dalam ruangan.
b)      Di dalam kelas agar selalu bersih, agar kelas nyaman untuk digunakan mengajar.
c)     Pastikan siswa sudah memiliki buku pegangan berupa LKS atau buku  sejenisnya, minimal satu buku untuk dua orang anak. Agar saat guru memberikan materi, siswa bisa lebih memperhatikan dan memahami pelajarannya.
d)  Memakai mediator yang menarik saat memperagakan pelajaran yang memerlukan alat-alat peraga.
e)  Guru perlu up to date dengan kabar-kabar terkini yang berhubungan dengan mata pelajaran IPA. Karena IPA dari masa ke masa pasti akan berkembang dalam materi, metode pembelajaran seiring dengan perkembangan zaman.
f)  Tentukan strategi yang pas (cocok) digunakan dan sesuai dengan     materi.
g)  Strategi yang digunakan harus sesuai dengan karakteristik anak, siswa kelas berapa yang dihadapi? Apakah nantinya dia mampu menerima materi kalau diajar dengan strategi ini? (misalkan anak usia SD kelas tinggi tentunya akan sulit diajar menggunakan strategi  pembelajaran berbasis penemuan).
h)    Strategi yang digunakan sesuai dengan materi yang disampaikan dan sesuai dengan kebutuhan. Jadi guru tidak asal-asalan dalam menggunakan strategi. 

4.2.4        Indentifikasi Strategi Pembelajaran
Strategi pembelajaran merupakan suatu serangkaian rencana kegiatan yang termasuk didalamnya penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam suatu pembelajaran. Strategi pembelajaran disusun untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Strategi pembelajaran didalamnya mencakup pendekatan, model, metode dan teknik pembelajaran secara spesifik. Adapun beberapa pengertian tentang strategi pembelajaran menurut para ahli adalah sebagai berikut:
  • Hamzah B. Uno (2008:45)
Strategi pembelajaran merupakan hal yang perlu diperhatikan guru dalam proses pembelajaran.
  • Dick dan Carey (2005:7)
Strategi pembelajaran adalah komponen-komponen dari suatu set materi termasuk aktivitas sebelum pembelajaran, dan partisipasi peserta didik yang merupakan prosedur pembelajaran yang digunakan kegiatan selanjutnya.
  • Suparman (1997:157)
Strategi pembelajaran merupakan perpaduan dari urutan kegiatan, cara mengorganisasikan materi pelajaran peserta didik, peralatan dan bahan, dan waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.
  • Hilda Taba
Strategi pembelajaran adalah pola atau urutan tongkah laku guru untuk menampung semua variabel-variabel pembelajaran secara sadar dan sistematis.
  • Gerlach dan Ely (1990)
Strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan metode pembelajaran dalam lingkungan pembelajaran tertentu.
  •  Kemp (1995)
Stategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.




DAFTAR PUSTAKA

Udin S. Winataputra. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
Budimansyah, Darsim dkk. 2008. PAKEM.Bandun : PT GANESINDO
Gulo, W, 2002. Strategi Belajar  Mengajar. Jakarta: Grasindo.
Tim D II PGSD. 2007. Strategi Belajar Mengajar. Surakarta : UNS Press.


edit post

0 Reply to "Hakekat Strategi Pembelajaran"

  • Poskan Komentar