Menerapkan Disiplin Kelas

Posted on 12.48, under


Unit 11 
Menerapkan Disiplin Kelas

Standar Kompetensi :
a.       Mampu menjelaskan hakekat strategi pembelajaran, disiplin kelas,
b.      Menjelaskan karakteristik pembelajaran di SD,
c.       Menjelaskan model-model pembelajaran,
d.      Menjelaskan kriteria pemilihan dan penggunaan metode mengajar,
e.       Menjelaskan kriteria pemilihan media pembelajaran,
f.       Menjelaskan keterampilan dasar mengajar,
g.      Menerapkan fungsi kegiatan rimidial dan pengayaan,
h.      Menerapkan pengelolaan kelas,
i.        Menerapkan disiplin kelas, dan menjelaskan pembelajaran yang efektif.

Kompetensi Dasar : Menjelaskan hakekat disiplin kelas dan strategi penanaman, penanganan disiplin kelas.

Indikator :
a.       Menjelaskan pengertian disiplin kelas,
b.      Memberi contoh disiplin kelas,
c.       Menjelaskan alasan pentingnya mengajarkan disiplin kelas,
d.      Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi disiplin kelas,
e.       Mengidentifikasi berbagai strategi untuk menanamkan disiplin kelas.

11.1 Hakikat Disiplin Kelas
            Disiplin merupakan kata yang tidak asing, sering ditakuti, terkadang memang terdengar membosankan sehingga kedisiplinan sering dilanggar, bahkan sering dianggap sebagai hukuman.
Namun jika dilihat dari perspektif yang berbeda, disiplin yang berasal dari kata discere, memiliki arti belajar. Jadi disiplin berarti belajar. Seorang guru atau orang tua yang mendisiplinkan anak didiknya, maka guru atauorang tua tersebut memberi pelajaran kapada anak didiknya.
            Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah disiplin merupakan ketaatan atau kepatuhan terhadap tata tertib atau peraturan yang berlaku dan dibuat oleh suatu golongan atau kelompok, maupun aturan tang dibuat sendiri. Mendisiplinkan juga berarti mengembalikan yang salah kepada sesuatu yang benar dan tertib. Disiplin dengan ketertiban, jika dilihat secara awam, merupakan dua hal yang hamper sama. Tetapi secara harafiah, keduanya merupakan dua hal yang berurutan. Artinya, disiplin akan terbentuk jika ada tata tertib (ketertiban) yang dibuat dan disepakati. Jadi ketertiban itulan yang membentuk kedisiplinan (disiplin).
            Dari uraian tersebut, maka dapat diperoleh bahwa disiplin kelas merupakan keadaan tertib, dimana pendidik dan peserta didik mematuhi dan menaati segala peraturan atau tata tertib yang berlaku di kelas maupun sekolah dengan senang hati, dan didalamnya terjadi proses pengendalian untuk menciptakan suasana disiplin itu sendiri.
Pernyataan tersebut didukung oleh  Suharsimi Arikunto (dalam Chumdari dan Sutini 1996:55) yang menyatakan bahwa disiplin kelas adalah keadaan tertib dimana guru dan murid-murd yang tergabung dalam suatu kelas tunduk kepada peraturan-peraturan (tata tertib) yang telah ditetapkan dengan senang hati.
Dalam prakteknya, disiplin kelas dapat dibagi menjadi dua jenis. Yaitu :
1.      Disiplin kelas yang berasal dari kesadaran peserta didik sendiri.
Artinya perilaku disiplin dating dari kesadaran masing-masing siswa tanpa perlu diperingatkan. Namun kesadaran disiplin ini perlu dibentuk sejak dini dengan proses yang terus menerus.
2.      Disiplin kelas yang timbul karena adanya paksaan dari pendidik atau wali kelas.
Jenis disiplin kelas yang timbul karena adanya paksaan, memang kurang baik. Karena dapat menimbulkan perasaan tertekan pada peserta didik, sehingga tidak dapat mengganggu perkembangan psikologinya, bahkan dapat menghilangkan kepercayaan diri peserta didik, membuat siswa menjadi pemalu dan penakut.

11.2 Pentingnya Penanaman Disiplin Kelas
            Suasana belajar yang kondusif sangat penting dalam proses pembelajaran siswa-siswi di kelas. Sadar atau tidak, suasana belajar yang kondusif dapat menyumbangkan hasil belajar yang lebih berkualitas. Suasana belajar yang kondusif adalah suasana belajar yang disiplin, namun tidak monoton dan keras. Dengan kata lain serius tapi santai.
Dapat dilihat dalam suatu kasus seperti dibawah ini : 







11.2.1
            Pada gambar diatas terlihat suasana belajar yang sangat kondusif, nyaman, dan tentunya disiplin. Kedisiplinan yang tampak pada gambar adalah para siswa benar-benar disiplin dalam memperhatikan materi dan tugas yang diberikan. Dan yang perlu diketahui, disiplin bukan berarti harus memakai seragam, harus bersepatu hitam, atau memakai dasi. Tetapi disiplin adalah bagaimana cara kita dalam menghargai dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin, menghargai orang lain dan menaati peraturan yang berlaku dengan benar, siap menerima segala konsekuensinya jika melanggar peraturan tersebut, dan mampu mempertanggung jawabkan setiap apa yang kita kerjakan.
            Dalam penananman disiplin kelas, manfaat yang diperoleh tidak hanya hasil belajar yang berkualitas, namun penanaman disiplin kelas juga bertujuan untuk membentuk peserta didik yang berkepribadian santun dan berkarakter, yang mampu menghargai dan memanfaatkan waktu dengan baik, taat pada peraturan serta dapat mempertanggung jawabkan segala tindakannya. Dalam pelaksaan disiplin kelas, harus berdasarkan dalam diri siswa. Karena tanpa sikap kesadaran dari diri sendiri, maka apa pun usaha yang dilakukan oleh orang disekitarnya hanya akan sia-sia.Contoh pelaksanaan disiplin kelas :
  • Datang ke sekolah tepat waktu
  • Rajin belajar
  • Menaati peraturan sekolah
  • Mengikuti upacara dengan tertib
  • Melaksanakan dan mengumpulkan tugas dengan baik dan tepat waktu

11.3 Strategi Penanaman Disiplin Kelas
            Dalam penerapannya, disiplin kelas tidak dapat begitu saja diberikan kepada peserta didik. Dalam hal ini dibutuhkan sosialisasi yang baik untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Untuk itu, dalam penanaman disiplin kelas memerlukan strategi yang jitu, yakni dengan menggunakan pendekatan yang baik terhadap peserta didik. Strategi yang dapat digunakan dalam penanaman disiplin kelas tersebut antara lain :
1.      Dengan model contoh yang diberikan oleh guru kepada peserta didik. Dalam hal ini guru memberikan contoh tentang cara bersikap, bertutur, dan berperilaku yang baik yang sesuai dengan aturan atau tata tertib yang berlaku.
2.      Penerapan peraturan tata tertib yang fleksibel, yang nyaman dan tidak membuat peserta didik merasa tertekan selama proses belajar.
3.      Menyesuaikan peraturan dengan psikologi dan perkembangan anak. Hal ini bertujuan supaya anak tidak merasa tertekan dan perkembangannya tidak terganggu karena tekanan terhadap psikologinya.
4.      Melibatkan peserta didik dalam pembuatan aturan atau tata tertib, supaya siswa merasa memiliki tanggung jawab terhadap peraturan yang dibuatnya sendiri, meski pada kenyataannya peraturan tersebut dibuat dan disepakati bersama.
5.      Menjalin hubungan sosial yang baik dengan peserta didik agar tercipta suasana kekeluargaan yang nyaman.
6.      Mengajarkan untuk hidup menurut prinsip struktur otoritas. Hal ini berkaitan dengan prinsip dalam bertindak yang sesuai dengan aturan Tuhan YME.
7.      Memperlakukan orangtua peserta didik sebagai mitra kerja. Seorang pendidik sudah seharusnya bekerjasama dengan orangtua peserta didik dalam penanaman sikap disiplin. Karena bagaimana pun keluarga memiliki pengaruh yang sangat besar dalam proses belajar anak.
8.      Mengatur dan menciptakan suasana kelas dengan baik. Kelas yang teratur dapat menjadi wadah peserta didik dalam “mengikuti arus” saat proses belajar dijalankan. Hal ini berkaitan dengan pemeliharaan lingkungan fisik sekolah, misalnya : penataan ruang kelas, pangaturan tempat duduk, dan persiapan mengajar.
9.      Pemberian reward (penghargaan) kepada siswa yang berperikalu baik. Hal ini dapat memacu siswa untuk menaati kedisiplinan.

11.4 Faktor yang Mempengaruhi Strategi Penanaman Disiplin Kelas
            Dalam proses penanaman disiplin kelas tentu tida terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi strategi penanaman disiplin kelas itu sendiri. Faktor yang mempengaruhi tersebut tentu faktor dari dalam (internal) dan faktor dari luar (eksternal). Untuk lebih jelasnya mari kita lihat keterangan berikut !!
A.    Faktor internal :
a.       Faktor fisiologis,
yang termasuk dalam faktor fisiologis antara lain, pendengaran, penglihatan, kesegaran jasmani, keletihan, kekurangan gizi, kurang tidur dan sakit yang di derita. Faktor fisiologis ikut berperan dalam menentukan disiplin belajar siswa. Siswa yang memiliki keadaan fisiologis yang sehat cenderung dapat melaksanakan disiplin kelas dengan baik.
b.      Faktor Psikologis,
Faktor psikologis yang dapat mempengaruhi proses disiplin kelas :
1.  Minat
Minat sangat besar pengaruhnya terhadap prsetasi belajar. Seseorang
yang tinggi minatnya dalam mempelajari sesuatu akan dapat meraih
hasil yang tinggi pula. Apabila siswa memiliki minat yang tinggi
terhadap pelajaran akan cenderung disiplin dalam belajar.

2.  Bakat
Bakat merupakan faktor yang besar peranannya dalam proses belajar.
Mempelajari sesuatu sesuai dengan bakatnya akan memperoleh hasil
yang lebih baik. Dan apabila peserta didik mempelajari sesuatu yang kurang sesuai dengan bakatnya, tingkat kedisiplinannya juga rendah.

3. Motivasi
Motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang
untuk melakukan sesuatu. Fungsi motivasi dalam belajar adalah untuk
memberikan semangat pada seseorang daam belajar untuk mencapai
tujuan.

4.  Konsentrasi
Konsentrasi dapat diartikan sebagai suatu pemusatan energi psikis
yang dilakukan untuk suatu kegiatan tertentu secara sadar terhadap
suatu obyek (materi pelajaran).

5.  Kemampuankognitif
Tujuan belajar mencakup tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan
psikomotor. Namun kemampuan kognitif lebih diutamakan, sehingga
dalam menacapai hasil belajar faktor kemampuan kognitif lebih
diutamakan.

b. Faktor Perorangan
Yang dimaksudkan faktor perorangan adalah sikap seseorang terhadap suatu peraturan. Walaupun sudah mengetahui tentang ketentuan atau peraturan yang sudah ada masih juga dilanggar, atau bersikap acuh tak acuh terhadap ketentuan tersebut. Hal ini dapat dilihat dari murid-murid yang tidak mau mengindahkan peraturan digariskan baik oleh guru/wali kelas maupun oleh sekolah. Sebagai contoh misalnya hari Senin murid-murid diharuskan untuk ikut apel bendera dan memakai pakaian seragam sekolah. Tetapi peraturan tersebut masih juga dilanggar murid, walaupun ia sudah mengetahuinuya. Ia tidak ikut apel dan bahkan tidak memakai pakaian seragam dengan disengaja.

B.     Faktor eksternal :
a.       Faktor Sosial
Yang dimaksudkan dengan faktor sosial di sini adalah faktor manusia sebagai makhluk sosial yang berkaitan dengan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Sebagai makhluk sosial maka manusia mempunyai kecendrungan-kecendrungan sebagai berikut :
1). Manusia didalam kelompoknya selalu ingin diikutsertakan.
2) Manusia didalam kelompoknya ingin diperhatikan.
3). Manusia didalam kelompoknya selalu ingin berhasil dan dihargai kelompoknya.
4). Manusia didalam kelompoknya memerlukan penghargaan dan perasaan diperlukan    oleh orang lain.
5). Manusia didalam kelompoknya memerlukan sesuatu yang dapat  membebaskan diri dari keterikatan waktu dan ruang.
Murid-murid atau siswa-siswa sebagai manusia, makhluk sosial tidak terlepas dari kecendrungan-kecendrungan tersebut. Oleh karena itu seorang guru/wali kelas dalam usaha untuk menciptakan, memelihara dan meningkatkan disiplin kelas harus memperhatikan hal-hal tersebut. Sebagai contoh seorang guru/wali kelas dalam mengambil suatu keputusan yang menyangkut kepentingan kelas, tanpa berunding dengan murid-murid, mengakibatkan keputusan-keputusan tersebut tidak dilaksanakan atau dipatuhi oleh murid-muridnya.

b.         Faktor Nonsosial
·         Lingkungan fisik
Dalam hal ini lingkungan fisik berkaitan dengan suasana kelas/sekolah, dan sarana prasarana yang ada. Lingkungan kelas yang baik dapat membangkitkan semangat peserta didik maupun pengajar untuk melaksanakan disiplin kelas dengan baik, namun sebaliknya apabila lingkungan kelas maupun sekolah tidak baik dan tidak mendukung, maka persentase pelaksanaan disiplin kelas juga akan sangat kecil. Kelas yang lingkungan kerjanya sehat dalam arti terdapat hubungan interpersonal yang baik antara murid dengan murid, guru dengan murid dan guru dengan guru akan meningkatkan disiplin belajar mengajar dikelas. Selain itu lingkungan fisik yang baik, juga dapat meningkatkan disiplin kelas. Lingkungan fisik yang baik misalnya fasilitas kelas yang teratur dan tersusun rapi serta cukup. Kekurangan fasilitas untuk belajar dapat menimbulkan kemalasan yang pada akhirnya mempengaruhi disiplin kelas. Sebagai contoh misalnya seorang guru diserahi tugas untuk mengajar bidang studi biologi. Ternyata buku wajib untuk mengajarkan ilmu tersebut tidak ada, sedangkan guru tersebut hanya diberikan GBPP (Garis Besar Program Pengajaran) untuk bidang studi tersebut. Akibatnya guru tersebut selalu mencari bahan-bahan pelajaran tersebut sesuai dengan GBPP dari buku-buku lain yang materinya dipandang relevan dengan GBPP tersebut. Apabila guru tersebut kewalahan mencari bahan-bahan pelajaran tersebut, maka sudah barang tentu dia tidak akan masuk mengajar karena materi yang akan disampaikan tidak ada. Kalaupun guru tersebut mengajar, maka materi yang akan disampaikan kepada anak menyimpang dari ketentuan yang sudah digariskan dalam GBPP untuk bidang studi biologi tersebut.
11.5 Strategi Penanganan Disiplin Kelas
Dalam praktiknya, pelaksanaan disiplin kelas tidak jarang mengalami masalah. Sebagai misal, adanya oknum yang melanggar disiplin kelas yang telah disepakati. Maka dari itu, untuk mengatasi adanya gangguan tersebut, perlu adanya strategi penanganan disiplin kelas. Strategi ini dikelompokkan menjadi tiga, sesuai dengan berat-ringannya pelanggaran yang terjadi.
1.      Penanganan Gangguan Ringan
Gangguan-gangguan ringan yang tidak mengganggu kelas memang sering terjadi. Namun ika gangguan-gangguan kecil ini tidak segera ditangani, maka akan menjadi gangguan besar. Sebagai contoh, seorang siswi memperlihatkan sesuatu kepada teman sebangkunya, jika hal ini dibiarkan, maka siswa yang lain akan penasaran dan ikut melihat sehingga kelas bisa menjadi ramai. Winzer (1995) menguraikan beberapa strategi yang dapat digunakan pendidik untuk mengatasi gangguan tersebut. Antara lain :
a.         Mengabaikan
Ganggunguan kecil dan ringan yang dianggap tidak akan mempengaruhi yang lain dapat diabaikan saja.
b.         Menatap agak lama
Untuk mengatasi peserta didik yang melanggar bisa ditangani dengan menatapnya agak lama.
c.         Menggunakan tanda nonverbal
Penanganan bagi peserta didik yang melanggar juga dapat diatasi dengan memberikan tanda nonverbal, misalnya dengan mengangkat tangan, atau meletakkan jari diatas bibir untuk menyuruh siswa yang gaduh diam.
d.        Mendekati
Trik mendekati peserta didik yang melanggar juga dapat digunakan dalam mengatasi adanya pelanggaran yang dilakukan oleh peserta didik. Saat pendidik mendekati peserta didik yang melanggar, dapat menimbulkan perasaan bersalah bagi peserta didik, sihingga ia memiliki tanggung jawab atas perbuatannya.
e.         Memanggil nama
Memanggil nama siswa yang sedang melakukan pelanggaran kecil akan dapat membantu memulihkan disiplin kelas asal dilakukan secara bijaksana, dan usahakan untuk tidak membuat siswa sakit hati, ataupun tersinggung.
f.          Mengabaikan secara sengaja
Strategi ini biasanya digunakan untuk menangani siswa yang mencari perhatian yang terlalu berlebihan. Misalnya siswa yang berlagak pintar, dan berlagak menggurui,. Artinya, kita tidak perlu menegurnya, tidak mendekati, maupun menatapnya. Hal ini dilakukan atas dasar asumsi bahwa tingkah anak yang mencari perhatian berlebih akan menjadi-jadi jika kita menanggapinya.

2.      Penanganan Gangguan Berat
Gangguan berat merupakan pelanggaran yang dilakukan oleh peserta didik yang dapat mempengaruhi siswa lain dan mengganggu jalannya proses belajar. Sebagai contoh adalah adanya siswa yang berkelahi, membolos, ada yang tidak mau mengerjakan tugasnya, sering terlambat, atau gangguan berat lainnya. Maka Winzer (1995) mengemikakan beberapa strategi sebagai berikut :
a.       Memberikan hukuman
Memberikan hukuman pada siswa yang melakukan pelanggaran memang masih menjadi persoalan, karena pemberian hukuman dianggap lebih banyak memberikan efek negative dibandingkan efek positifnya. Hal ini didukung oleh pernyataan Kohn (1996) mengemukakan bahwa hukuman dapat memperparah masalah, meerusak hubungan guru-siswa, dan menghambat proses perkembangan etika.
Winzer (1995) menyatakan bahwa dalam pemberian hukuman ada hal-hal yang harus diperhatikan :
·         Gunakan hukuman jika hal tersebut dianggap sangat perlu.
·         Mulai dengan hukuman yang ringan, misalnya : memberikan teguran yang halus sebelum memutuskan memberikan hukuman.
·         Hukuman harus diberikan secara adil dan sesuai dengan tingkat pelanggaran.
·         Ketika memberikan hukuman, guru hendaknya memberikan contoh apa yang semestinya dilakukan.
b.      Melibatkan orang tua
Pendidikan anak merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua, masyarakat dan sekolah. Oleh karena itu, wajar jika seorang guru melibatkan orang tua dalam mengangani masalah pelanggaran disiplin kelas. Untuk melibatkan orang tua, ada baiknya guru membuat laporan secara teratur kepada orang tua tentang perkembangan anaknya. Termasuk pelanggaran yang dibuat maupun prestasi yang dicapai.

3.      Penanganan Perilaku Agresif
Perilaku agresif merupakan perilaku menyerang yang ditunjukkan oleh siswa di dalam kelas. Misalnya ada siswa yang berteriak, menyerang atau menyakiti siswa lain, atau bahkan menyerang guru. Kita tentu mengharapkan hal-hal tersebut tidak terjadi di kelas kita.jika perilaku agresif tersebut sampi muncul, kita harus segera mengatasinya, dengan cara-cara sebagai berikut :
a.       Mengubah tempat duduk.
Jika ada siswa yang berkelahi dengan teman sebangkunya, maka perluadanya perpindahan (rolling) tempat duduk, agar tidak terjadi perkelahian yang dapat mengganggu suasana belajar.
b.      Jangan terjebak konfrontasi atau perselisihan yang tidak perlu.
Kita harus menyadari, ketika di kelas V dan VI merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan siswa yang biasannya menunjukkan sifat agresif. Untuk itu, kita tidak boleh menanganinnya dengan kasar, bahkan kita tidak boleh mengucapkan kata-kata kasar, karena jika kita menanganinya dengan emosi, maka masalah justru akan bertambah parah.
c.       Jangan melayani siswa yang agresif dalam keadaan emosi.
Kita tidak boleh melayani siswa agresif dengan keadaan emosi, karena dapat memperparah masalah.
d.      Tidak mengucapkan perkataan kasar dan tidak menghina.
Penggunaan kata-kata kasar yang menghina akan menimbulkan perasaan dendam siswa terhadap gurunya. Di samping itu penggunaan kata-kata yang kasar akan menurunkan martabat kita sebagai guru.
e.       Konsultasi pada pihak lain yang lebuh berpengalaman.
Jika guru dihadapkan pada perilaku / pelanggaran yang membahayakan siswa lain maupun guru sendiri, sebaiknya guru segera meminta bantuan kepada orang yang sudah ahli.



























DAFTAR PUSTAKA

Bolla, J.I (1984), Keterampilan Mengelola Kelas, Jakarta, Proyek Pengembangan Pendidikan Guru, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Danielson, Ch. (1996), Enchanging Professional Practice A frame work for Teaching, Alexandria, Virginia: Association for Supervision and Curriculum Development.


Kohn, A. (1996), Beyond Discipline From Complience to Community, Alexandria, Virginia: Association for Supervision and Curriculum Development.

Turney, C. & Crains, L.G (1980), Sydney Macro Skills Series 3 Classroom Management and Discipline, Sydney: Sydney University Press.

Weber, W.A. (1977), Classroom Management. Dalam James M. Coeper (General Ed). Classroom Teaching Skills A Handbook Lexington: D.C, Heath and Company.

Winzers, M (1995), Educational Psychologyin the Canadian Classroom. Scarborough, Ontario: Allyn & Baxon Canada




edit post

1 Reply to "Menerapkan Disiplin Kelas"

  • Arvind ryugasaki on 7 September 2016 21.47

    XD thx

     
  • Poskan Komentar