Model-Model Pembelajaran

Posted on 12.30, under


Unit 3 
Model – Model Pembelajaran

1.    STANDAR KOMPETENSI
1.1         Mampu menjelaskan hakekat strategi pembelajaran, disiplin kelas;
1.2         Menjelaskan karakteristik pembelajaran di SD;
1.3         Menjelaskan model-model pembelajaran;
1.4         Menjelaskan prosedur pembelajaran;
1.5         Menjelaskan kriteria pemilihan dan penggunaan metode mengajar;
1.6         Menjelaskan kriteria pemilihan media pembelajaran;
1.7         Menjelaskan keterampilan dasar mengajar;
1.8         Menerapkan keterampilna dasar mengajar;
1.9         Menerapkan fungsi kegiatan remidial dan pengayaan;
1.10     Menerapkan pengelolaan kelas;
1.11     Menerapkan disiplin kelas; dan
1.12     Menjelaskan pembelajaran yang efektif.
2.    KOMPETENSI DASAR

2.1  Menjelaskan model-model Pembelajaran, rumpun model pembelajaran

3.    INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI

3.1  Menjelaskan hakekat , manfaat, dan prinsip belajar kolaboratif
3.2  Menjelaskan hakekat,  manfaat, prinsip belajar quantum learning
3.3  Menjelaskan hakekat,  manfaat, prinsip belajar kooperatif
3.4  Menjelaskan hakekat,  manfaat, prinsip belajar tematik
3.5  Menjelaskan dan mendemonstrasikan rumpun mengajar model sosial
3.6  Menjelaskan dan mendemonstrasikan rumpun model pemprosesan informasi
3.7  Menjelaskan dan mendemonstrasikan rumpun model pribadi
3.8  Menjelaskan dan mendemonstrasikan rumpun model perilaku

4.    PEMBAHASAN
4.1  pengantar
dalam dunia pendidikan keberhasilan pembelajaran sngata dipengaruhi oleh banyak faktor utamanya dalam kegiatan belajar mengajar yaitu model pembelajarannya. Seorang guru harus mempunyai kemampuan, pemahaman dan pengimplementasian strategi mengajarnya agar keberhasilan tersebut tercapai, maka dari itu model-model dalam pembelajaran merupakn hal yang sangta penting dalam mencapai tujuan pendidikan. Oleh karena itu para pendidik perlu pengenalan terhadap model pembelajaran beserta penerapannya dalam kegiatan pembelajaran agar kegiatan pembelajaran sesuai dengan apa yang diharapkan.
4.2  isi
4.2.1        MODEL PEMBELAJARAN KOLABORATIF
(COLLABORATIF LEARNING)
4.2.1.1  Hakikat Belajar Kolaboratif
Belajar kolaboratif adalah bekerja sama antar siswa dalam suatu kelompok memecahkan masalah bersama untuk mencapai tujuan tertentu. Dua unsur yang penting dalam belajar kolaboratif adalah (1) adanya tujuan yang sama, dan (2) ketergantungan yang positif. Pertama, dalam mencapai tujuan tertentu, siswa bekerja sama dengan teman untuk menentukan strategi pemecahan masalah yang ditugaskan oleh guru. Dua orang siswa atau kelompok kecil siswa berdiskusi untuk mencari jalan keluar, menetapkan keputusan bersama. Diskusi ini menimbulkan perasaan bahwa persoalan yang sedang didiskusikan adalah milik bersama. Setiap orang mengemukakan ide dan saling menanggapi, yang  akhirnya dapat mengembangkan pengetahuan bersama maupun pengetahuan masing-masing individu. Kedua, ketergantungan yang positif, maksudnya setiap anggota kelompok hanya dapat berhasil mencapai tujuan apabila seluruh anggota bekerja sama. Dengan demikian, dalam belajar kolaboratif, ketergantungan individu sangat tinggi.




4.2.1.2  Prinsip-prinsip belajar kolaboratif sebagai berikut:
v  Mengajarkan keterampilan kerja sama, mempraktikkan, dan balikan diberikan dalam hal seberapa baik keterampilan-keterampilan digunakan.
v  Kegiatan kelas ditingkatkan untuk melaksanakan kelompok yang kohesif.
v  Individu-individu diberi tanggung jawab untuk kegiatan belajar dan perilaku masing-masing.

4.2.1.3  Manfaat Belajar Kolaboratif
Ø Meningkatkan pengetahuan anggota kelompok karena interaksi dalam kelompok merupakan faktor berpengaruh terhadap penguasaan konsep.
Ø Pebelajar belajar memecahkan masalah bersama dalam kelompok.
Ø Memupuk rasa kebersamaan antarsiswa, setiap individu tidak dapat lepas dari kelompoknya, mereka perlu mengenali sifat, pendapat yang berbeda  dan mampu mengelolanya. Selain itu hakikat manusia sebagai makhluk sosial mereka tidak dapat menyendiri melainkan memerlukan orang lain dalam hidupnya.
Ø Meningkatkan keberanian memunculkan ide atau pendapat untuk pemecahan bersama setiap individu diarahkan untuk mengajarkan atau memberi tahu kepada teman kelompoknya jika mengetahui dan menguasai permasalahan.
Ø Memupuk rasa tanggung jawab individu dalam mencapai suatu tujuan bersama dalam bekerja tidak terjadi tumpang tindih atau perbedaan pendapat yang prinsip.
Ø Setiap anggota melihat dirinya sebagai milik kelompok yang merasa memiliki tanggung jawab karena kebersamaan dalam belajar menyebabkan mereka juga sangat  memperhatikan kelompok.


4.2.2        BELAJAR KUANTUM (QUANTUM LEARNING)
 4.2.2.1  Hakikat Belajar Kuantum
Model belajar ini muncul untuk menanggulangi masalah yang paling sukar di sekolah, yaitu "kebosanan". Istilah Kuantum secara harfiah berarti “kualitas  sesuatu", mekanis (yang berkenaan dengan gerak). De Porter & Hernacki (1999) mendefinisikan quantum learning sebagai interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya, sedangkan Agus Nggermanto ( 2002) mengatakan bahwa quantum learning menjelaskan bagaimana cara belajar efektif sehingga mendapat hasil yang sama dengan kecepatan cahaya. Metode membaca kuantum adalah sebagian quantum mencapai kecepatan cahaya.
Quantum learning berakar dari upaya Lozanov dengan eksperimennya tentang suggestopedia. Pinsipnya adalah bahwa sugesti dapat mempengaruhi hasil belajar dan setiap detail apa pun memberikan sugesti positif atau negative. Beberapa teknik yang digunakan untuk memberikan sugesti positif
adalah sebagai berikut:
1.    Mendudukan siswa secara nyaman.
2.    Memasang music latar di dalam kelas.
3.    Meningkatkan partisipasi individu.
4.    Menggunakan poster untuk memberikan kesan besar sambil menunjukkan informasi.
5.    Menyediakan guru-guru yang terlatih dalam seni pembelajaran sugesti.
Pembelajaran kuantum mengedepankan unsur-unsur kebebasan, santai, menakjubkan, menyenangkan, dan menggairahkan. Indikator keberhasilal pembelajaran kuantum adalah siswa sejahtera. Siswa dikatakan sejahtera kalau aktivitas belajarnya menyenangkan dan menggairahkan.




4.2.2.2  Prinsip-prinsip Utama Pembelajaran Kuantum
1.    Segalanya berbicara, segala sesuatu lingkungan kelas hingga bahasa tubuh guru, dari kertas yang dibagikan sampai rancangan pembelajaran, semuanya mengirim pesan tentang belajar.
2.    Segalanya bertujuan, semua yang terjadi dalam penggubahan mempunyai tujuan, yaitu para siswa mengembangkan kecakapan dalam mata pelajaran.
3.    Berangkat dari pengalaman, proses belajar paling baik terjadi ketika siswa telah rnengalami informasi sebelum memperoleh label untuk  sesuatu yang dipelajari.
4.    Hargai setiap usaha, belajar mengandung risiko, belajar berarti melangkah keluar dari kenyamanan, saat siswa mengambil langkah ini, mereka patut mendapat pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan dirinya. Pemberian pengakuan tersebut harus kuat dan konkret. Seperti kata "bagus, baik, hebat, dan memuaskan" sudah lazim digunakan oleh guru, tetapi kurang jelas apanya yang bagus, baik atau memuaskan, akan lebih konkret apabila disebutkan bagian mana yang bagus, misalnnya paragraf yang kamu tulis bagus sekali, jawabanmu tepat sekali, gambarmu sesuai dengan kenyataan, dan exelent. Dengan demrkian, anak menjadi tahu bagian mana yang mendapat penghargaan.
5.    Rayakan setiap keberhasilan dengan memberikan umpan balik tentang kemajuan belajar dan meningkatkan asosiasi emosi yang positif. Sebagai guru, kita layak menanamkan bibit kesuksesan dan selalu menghubungkan belajar dengan perayaan karena perayaan membangun keinginan untuk sukses. Bentuk perayaan dapat berupa: tepuk tangan, berteriak hore 3 kali, jentikkan jari, poster umum, catatan pribadi, persekongkolan, kejutan, pengakuan kekuatan pujian kepada teman sebangku.

4.2.2.3      Manfaat Belajar Kuantum
a.    Suasana kelas menyenangkan sehingga siswa bergairah belajar.
b.    Siswa dapat memanfaatkan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya sebagai pendorong belajar.
c.    Siswa belajar sesuai dengan gaya belajar masing-masing.
d.   Apa pun yang dilakukan oleh siswa sepatutnya di hargai.

4.2.3        BELAJAR KOOPERATIF (COOPERATIVE LEARNING)
4.2.3.1 Hakikat Belajar Kooperatif
Kooperatif berarti bekerja bersama untuk menyelesaikan suatu tujuan. Belajar kooperatif adalah pembelajaran yang menggunakan kelompok kecil sehingga siswa bekerja bersama untuk memaksimalkan kegiatan belajarnya sendiri dan juga anggota yang lain. Idenya sangat sederhana. Anggota kelas diorganisasikan kedalam kelompok-kelompok kecil setelah menerima pembelajaran dari guru. Kemudian, para siswa itu mengerjakan tugas sampai semua anggota kelompok berhasil memahaminya.
Kata kooperatif digunakan apabila memacu pada anak-anak yang bersedia berbagi bahan-bahan yang dimiliki. Belajar kooperatif bukan harmonisasi, dan sering melibatkan konflik intelektual. Kegiatan kooperatif dapat dikatakan eksis apabila dua orang atau lebih bekerja bersama untuk mencapai tujuan yang sama.

4.2.3.2  Prinsip Utama Belajar Kooperatif
1.   Kesamaan tujuan
Jika suatu kelas bekerja sama dalam suatu permainan, tujuan kelompok adalah menghasilkan suatu permainan yang menyebabkan anak-anak lain senang atau mengapresiasi kelompok itu. Namun, tujuan tiap anak mungkin tidak sama. Seorang anak mungkin ingin menyenangkan gurunya, yang lain ingin menarik perhatian kelas lain, yang lain betul-betul menganggap sebagai suatu kesempatan untuk mengerjakan tugas sebaik-baiknya. Namun, makin sama tujuan makin kooperatif.  


2.   Ketergantungan Positif
Ketergantungan antara individu-individu dapat dilakukan berbagai cara sebagai berikut.
1)        Beri anggota kelompok peranan khusus untuk membentuk pengamal peningkat, penjelas atau perekam. Dengan cara ini tiap individu memiliki tugas khusus dan kontribusi tiap orang diperlukan untuk melengkapi keberhasilan tugas.
2)        Pecahlah tugas rnenjadi sub-sub tugas yang diperlukan untuk melengkapi keberhasilan tugas. Setiap anggota kelompok diberi sub tugas. Input diperlukan oleh seluruh anggota kelompok.
3)        Nilailah kelompok sebagai satu kesatuan yang terdiri dari individu-individu.Anak-anak dapat bekerja berpasangan dengan penilaian tiap pasangan dengan penilaian tiap pasangan.
4)        Struktur tujuan kooperatif dan kompetitif dapat dikoordinasikan dengan menggunakan kelompok belajar kooperatif, menghindari pertentangan satu sama lain.
5)        Ciptakan situasi fantasi yang menjadikan kelompok bekerja bersama untuk membangun kekuatan imaginatif, dengan aturan yang ditetapkan oleh situasi. Misalnya, "kamu di suatu pulau dan harus mencipakan rumah, petani dan masyarakat yang mencukupi diri sendiri".
Perbedaan antara belajar kooperatif dengan belajar kelompok dapat dilihat pada tabel berikut.

Belajar Kooperatif
Belajar Kelompok
Memiliki beragam model
Hanya memiliki satu moel, yaitu beberapa siswa tergabung dalam satu kelompok
Memilii struktur, jumlah serta teknik tertentu
Memiliki satu cara, yaitu menyelesaikan tugas tertentu bersama-sama
Mengaktifkan semua angota kelompok untuk berperan serta dalam menyelesai tugas tertentu
Menimbulkan gejala ketergantungan antar angota kelompok
Belajar kooperatif menggalang potensi sosialisasi di antara angotanya
Sangat tergantung dari niat baik setiap anggota kelompok

4.2.3.3  Manfaat Belajar Kooperatlf

1.      Meningkatkan hasil belajar
2.      Meningkatkan hubungan antar kelompok, belajar kooperatif member kesempatan kepada setiap siswa untuk berinteraksi dan beradaptasi dengan teman satu tim untuk mencerna materi pelajaran.
3.      Meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi belajar, belajar kooperatif darap membina sifat kebersamaan, peduli satu sama lain dan tenggang rasa, serta mempunyai rasa andil terhadap keberhasilan tim.
4.      menumbuhkan realisasi kebutuhan pebelajar untuk belajar berpikir, belajar kooperatif dapat diterapkan untuk berbagai materi ajar, seperti pemahaman yang rumit, pelaksanaan kajian proyek, serta latihan memecahkan masalah.
5.      Memadukan dan menerapkan pengengetahuan dan ketrampilan.
6.      Meningkatkan perilaku dan kehadiran di kelas.
7.      Relatif murah karena tidak memerlukan biaya khusus untuk menerapkannya.

4.2.4     BELAJAR TEMATIK
4.2.4.1 Hakikat Belajar Tematik
Belajar tematik didefinisikan sebagai suatu kegiatan belajar yang dirancang sekitar ide pokok (tema), melibatkan beberapa bidang studi (mata pelajaran) yang berkaitan dengan tema. Pendekatan ini dilakukan oleh guru dalam usahanya untuk menciptakan konteks dalam berbagai jenis pengembangan yang terjadi sehingga apa yang dipelajari atau dibahas disajikan secara utuh dan menyeluruh, bukan bagian-bagian dari satu konsep yang utuh.Pappas (1995) mengatakan bahwa pembelajaran tematik merupakan pembelajaran yang digunakan guru untuk mendorong partisipasi aktif pebelajar dalam kegiatan-kegiatan yang difokuskan pada suatu topic yang disukai pebelajar dan dipilih untuk belajar.

4.2.4.2  Prinsip Belajar Tematik

                                    Belajar tematik menggunakan tema sentral dalam kegiatan belajar yang berlangsung. Semua kegiatan belajar dipusatkan sekitar tema tersebut. Meinbach( 1995) mengatakan bahwa pembelajaran tematik mengombinasikan struktur, urutan, strategi, yang diorganisasikan dengan baik. Kegiatan-kegiatan, bacaan, dan bahan-bahan digunakan untuk mengembangkan konsep-konsep tertentu.
                                     Para ahli mengasumsikan bahwa belajar tematik merupakan suatu cara untuk mencapai keterpaduan kurikulum. Meinbach( 1995) mengatakan dalam pembelajaran bahasa, unit tematik merupakan suatu epitome (kerangka isi) pembelajaran bahasa secara keseluruhan (membaca, menulis, menyimak, dan berbicara). Pappas ( 1995) mengatakan bahwa belajar tematik mencerminkan pola-pola berpikir, tujuan, dan konsep-konsep umum bidang ilmu.

4.2.4.3 Karakteristik Pembelajaran Tematik

                Pembelajaran tematik memiliki karakteristik yang khas dengan pembelajaran lainnya. Kegiatan belajarnya lebih banyak dilakukan melalui pengalaman langsung atau hands on experiences. Secara rinci Barbara Rohde dan Kostelnik, et.al. (1991) mengemukakan karakteristik pembelajaran tersebut sebagai berikut:

1.      Tematik memberikan pengalaman langsung dengan objek-objek yang riil bagi pebelajar untuk menilai dan memanipulasinya.
2.      Tematik menciptakan kegiatan di mana anak menggunakan semua pemikirannya.
3.      Membangun kegiatan sekitar minat-minat umum pebelajar.
4.      Membantu pebelajar mengembangkan pengetahuan dan keterampilan baru yang didasarkan pada apa yang telah mereka ketahui dan kerjakan.
5.      Menyediakan kegiatan dan kebiasaan yang menghubungkan semua aspek perkembangan kognitif, emosi, sosial, dan fisik.
6.      Mengakomodasi kebutuhan pebelajar untuk bergerak dan melakukan kegiatan fisik , interaksi social, kemandirian, dan harga diri yang positif.
7.      Memberikan kesempatan menggunakan bermain untuk menerjemahkan pengalaman kedalam pengertian.
8.      Menghargai perbedaan individu, latar belakang budaya, dan pengalaman di keluarga yang dibawa pebelajar  kekelasnya.
9.      Menemukan cara-cara untuk melibatkan anggota keluarga pebelajar.

4.2.4.4  Perlunya Pembelajaran Tematik, Khususnya di SD

1.        Pada dasarnya siswa SD kelas awal memahami suatu konsep secara utuh, global/tematis, makin meningkat kecerdasannya makin rinci dan spesifik pemahamannya terhadap konsep tertentu.
2.        Siswa SD kelas awal mengembangkan kecerdasannya secara komprehensif, semua unsur kecerdasannya ingin dikembangkan sehingga muncul konsep pentingnya multiple intellegents dikembangkan.
3.        Kenyataan hidup sehari-hari menampilkan fakta yang utuh dan tematis.
4.        Ada konteksnya.
5.        Guru SD adalah guru kelas, akan lebih mudah mengajar satu konsep secara utuh, akan sulit mengajar sub-sub konsep secara terpisah-pisah.

4.2.4.5  Manfaat Belajar Tematik

Dalam belajar tematik, ada perubahan peranan guru ari seseorang pemimpin dan penyedia kebiajkan serta pengetahuan fasilitator, pebimbing, penantang, pemberi saran dan organisator. Pembelajaran tematik menghadapkan pebelajar pada arena yang realistic, medorong pebelajar memanfaatkan suatu konteks dan literature yang luas. Pembelajaran ini juga membantu pebelajar melihat hubungan yang diantara ide-ide dan konsep-konsep. Dengan demikian, akan meningkatkan pemahaman pebelajar terhadap apa yang dipelajari. Disamping itu belajar tematik juga memberikan kesempatan yang nyata kepada pebelajar untuk membentuk latar belakang informasi sendiri dalam rangka membangun pengetahuan baru. Pembelajaran tematis selain memperhatikan kompetensi dan bahan ajar juga perlu memperhatikan logika, estetika, etika, dan kinestetika serta life skills (personal skills, social skills, academic skills, thinking skills, vocational skills). Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.

4.2.5  RUMPUN MODEL MENGAJAR MODEL SOSIAL
Model pembelajaran sosial (Sosial Famly) menekankan pada usaha mengembangkan kemampuan peserta didik agar memiliki kecakapan untuk berhubu-ngan dengan orang lain sebagai usaha membangun sikap peserta ddik yang demokratis dengan menghargai setiap perbedaan dalam realitas social. Inti dari model sosial ini adalah konsep “synergy” yaitu energy atau tenaga yang terhimpun melalui kerjasama sebagai salah satu fenomena kehidupan masyarakat. Denman menerapkan model sosial pembelajaran diarahkan pada upaya melibatakn peserta didik dalam menghayati, mengkaji, menerapkan dan menerima fungsi dan peran social. Model sosial ini dirancang untuk memanfaatkan fenomena kerjasama, membimbing peserta didik mendefinisikan masalah, mengeksplorasi berbagai cakrawala mengenai masalah, mengumpukan data yang relevan, dan mengembangkan serta menguji hipotesis. Karena itu guru seyogyanya mengorganisasikan belajar melalui kerja kelompok dan mengarahkannya. Jadi pendidikan harus diorganisasi-kan dengan cara melakukan penelitian bersama (cooperative inquiry) terhadap masalah-masalah sosial dan masalah-masalah akademis.
Model interaksi sosial terdiri atas enam model pengajaran :
1.             model penelitian kelompok : sebagai sumber proses demokrasi
            pola belajar-mengajar yang dirancang untuk mengembangkan keterampilan berpartisipasi secara demokrasi dan memecahkan masalah secara ilmiah.
2.             model penelitian sosial : model penelitian untuk ilmu pengetahuan sosial
            pola belajar mengajar yang dirancang untuk mengembangkan keterampilan memecahkan masalah dengan menggunakan penalaran logis berdasarkan metode penelitian ilmiah.
3.             model metode labolatorium
4.             model jurisprodensial
5.             model bermain peranan
6.             model simulasi sosial

4.2.6  RUMPUN MODEL PEMPROSESAN INFORMASI
Model pembelajaran pemrosesan informasi (information processing Models) menjelaskan bagaimana cara individu memberi respon yang datang dari lingkukngannya dengan cara mengorganisasikan data, memformulasikan masalah, membangun konsep dan rencana pemecahan masalah serta penggunaan simbol-simbol verbal dan non verbal. Model ini memberikan kepada peserta didik sejumlah konsep, pengetesan hipotesis, dan memusatkan perhtian pada kengembangan kemampuan kreatif. Model pengelolaan informasi ini secara umum dapat diterapkan pada sasaran belajar dan berbagai usia dalam mempelajari individu dan masyarakat. Karena itu, model ini potensial untuk digunakan dalam mencapai tujuan-tujuan yang berdimensi personal dan social di samping yang berdimensi intekeltual.
Model pemprosesan informasi terdiri atas tujuh model pengajaran :
1.             model berpikir induktif : pengumpulan, pengorganisasian dan pengolahan data.
Adalah pola belajar-mengajar yang dirancang untuk mengembangkan proses berpikir induktif yaitu mengajak berpikir ilmiah dalam mengolah fakta sampai pembentukan teori sehingga akan membentuk pribadi yang kritis.
2.             model latihan inkuiri : dari fakta ke teori
pola belajar mengajar yang dirancang untuk melatih siswa melakukan proses meneliti.  Penelitian dihadapkan pada masalah yang mengandng tantangan intelektual secara bebas, terarah kedalam kegiatan meneliti untuk memperoleh pengetahuan.
3.             model inkuiri ilmiah
4.             model pemerolehan konsep  : suatu dasar berfikir
pola belajar mengajar yang dirancang untuk memperoleh konsep dengan strategi mengajar :
a.       Berorientasi pada menerima konsep,
b.      Berorientasi mempertimbangkan dan memilih konsep,
c.       Berorieontasi pada kreaktifan siswa memperoleh konsep.
5.             model pertumbuhan berpikir
6.             model advance organizer : perbaikan keefaktifan ceramah dan presentasi pengajaran.
David Ausubel : struktur berpikir siswa ( susunan prilaku berpikir ) sejalan dengan susunan bahan pengetahuan ( isi kurikulum ) dan bagaimana siswa mempelajari bahan pengetahuan ( belajar ).
Model advance organizer : pola belajar mengajar yang dirancang untuk memperbaiki efektivitas prestasi, efisien prilaku belajar, sehingga siswa dapat menyerap, mencerna dan mengingat bahan pengajaran dengan baik.
7.             model ingatan

4.2.7  Rumpun model pribadi
Model pembelajaran personal (personal famly) merupakan rumpun model pembe-lajaran yang menekankan kepada proses mengembangkan kepribadian individu peserta didik dengan memperhatian kehidupan emosional. Proses pendidikan sengaja diusahakan untuk memungkinkan seseorang dapat memahami dirinya sendiri dengan baik, memikul tanggun jawab, dan lebih kreatif untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Model ini memusatkan perhatian pada pandangan perseo-rangan dan berusah menggalakkan kemamdirian yang produktif, sehingga manusia menjadi semakin sadar diri dan bertanggung jawab atas tujuannya.
Model pribadi terdiri atas lima model pengajaran :
1.      model pengajaran nondirective
2.      model latihan kesadaran
3.      model synectics : untuk mengembangkan kreativitas
pola belajar mengajar yang dirancang untuk melatih siswa mengembangkan ketrampilan memecahkan masalah secara kreaktif dan kreaktivitas pribadi.
4.      model sistem konseptual
5.      model pertemuan tatap muka : kesehatan mental melalui proses berkelompok
pola belajar mengajar yang dirancang untuk mengembangkan pemahaman diri sendiri dan rasa tangguang jawab pada diri sendiri dan kelompok.

4.2.8  Rumpun model perilaku
Model pembelajaran sistem prilaku dalam pembelajaran (Behavior Model of Teaching) dibangun atas dasar kerangka teori prilaku. Melalui teori ini siswa dibimbing untuk dapat memecahkan masalah belajar melalui penguaraian prilaku ke dalam jumlah yang kecil dan berurutan.

Model prilaku terdiri atas tujuh model pengajaran :
1.      model pengawasan diri : mengatur lingkungan sekitar kita sendiri
pola belajar-mengajar yang diranang untuk melatih siswa mengenal prinsip-prinsip prilaku, melakukan pengawasan diri sendiri untuk berprilaku yang lebih baik.  Pola ini mengubah keadaan lingkungan sehingga mendorong terjadinya perilaku baru yang dikehendaki.
2.      model relaksasi
3.      model pengelolaan kemungkinan
4.      model reduksi tekanan jiwa : suatu prosedur dasar untuk mengurangi kegelisahan.
Pola belajar mengajar siswa yang dirancanguntuk melatih siswa dapat mengganti perilaku yang tidak cocok dengan perilaku yang baik, dapat mengurangi kegelisahan menjadi perilaku kesantaian yang lebih menyenangkan dan memiliki kebiasaan hidup sehat.
5.      model latihan bertindak tegas
6.      model desensitization
7.      model latihan langsung



DAFTAR PUSTAKA

Dimyati. Moedjiono. 1992. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Depdikbud.
Sumantri Mulyani. Permana Johar.1999. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Depdikbud.
smpn2rantauselamatatim.files.wordpress.com/model-pbm



edit post

0 Reply to "Model-Model Pembelajaran"

  • Poskan Komentar